BEKAM/HIJAMAH/KOP/CANTUK SEBAGAI SALAH SATU SUNNAH RASULULLAH SAW. Segala puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Maha suci Allah, dzat yang telah menurunkan suatu penyakit dan juga yang menurunkan penawarnya. kepada-Nyalah kita kita memohon petunjuk dan jalan menuju surga Allah SWT. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad SAW yang telah membimbing kita hingga akhir jaman, juga kepada keluarga, para sahabat dan pengikutnya yang senantiasa istikomah di jalan-Nya. Amin.Sejatinya pengobatan bekam sudah tidak asing lagi dan sering kita dengar, bahkan sudah dikenal dan sudah dilakukan ribuan tahun yang lalu hingga sekarang. Terlebih di Indonesia hampir semua sudah mengenal dan merasakan manfaatnya. Baik manfaat di bekam dan membekam walaupun kadang dengan istilah lain seperti kop, canthuk, canduk dll.
Bekam memang merupakan pengobatan yang sederhana, mudah, murah dan relatif aman kalau kita mau berhati-hati dan melaksanakan sesuai standar operasional bekam. Bahkan saking mudahnya, anak kecilpun bisa melakukannya hanya bermodal keberanian dan tuntunan orang tuanya disamping buku petunjuk yang dimiliki. Tetapi terkadang bermodal keberanian saja tidak cukup tanpa dibekali dasar-dasar pengobatan dan patofisiologi maupun anatomi tubuh baik secara kedokteran islam/tradisional maupun kedokteran modern.
Selain daripada itu, telah kita ketahui bahwa kebanyakan juru bekam hanya membekam dengan melihat gambar saja yang sangat mudah kita dapatkan di toko-toko buku tanpa tahu maksud dan tujuan gambar tersebut. Adapula yang melakukan bekam secara acak dan ngawur tanpa menghiraukan aturan dan larangan yang boleh dan tidak boleh di bekam. Disamping pendapat dari beberapa juru bekam yang beranggapan bahwa bekam bisa menyembuhkan semua penyakit. Memang banyak betulnya anggapan tersebut. Akan tetapi tanpa dasar, pengetahuan dan pengalaman yang luas malah banyak kejadian-kejadian yang tidak diinginkan setelah dibekam, misal setelah dibekam pingsan, badan sakit semua, lumpuh atau bahkan meninggal dunia.
Oleh karena itu, dengan memperhatikan hal-hal diatas kita harus lebih banyak belajar ilmu pengobatan dan kesehatan baik itu yang tradisional maupun yang modern. Sehingga kita akan terhindar dari bahaya dan resiko baik itu pembekam maupun yang di bekam.
TEKNIK BEKAM
Barangsiapa yang ingin menjadikan terapi hijamah sebagai suatu bidang kerjanya (profesinya), yang dapat membantu proses penyembuhan berbagai penyakit dan juga sebagai proses amalan bagi pencegahan pelbagai penyakit khusus untuk masyarakat umum dan juga untuk anggota keluarga sendiri. Harus mengetahui perkara-perkara pokok/azas sebelum melakukan perawatan hijamah sebagai menunaikan tuntutan fardhu kifayah.
Adapun azas perawatan berhijamah adalah sebagai berikut antara lain:
1. Senantiasa belajar dan mengetahui tentang ilmu penyakit(panthology), termasuk tahap penyakit dari mulai akut (ringan), sub akut, kronik dan degeneratif.
2. Senantiasa mempelajari “produk knowledge”, fungsi obatan dari sumber alamiah dan obatan modern(kimiawi).
3. Harus mengetahui dan mahir mendiagnosa penyakit dari tanda-tanda(symptom) fizikal penyakit dan kaedah Naturopathy, Palpasi(denyut nadi), Iridologi, Analisis Syaraf Tangan, Kiropraktik, Pengobatan Tradisional.
4. Harus bijak menstabilkan dan mengawal emosi, mental, dan memahami kondisi jiwa pasien.
5. Mampu memainkan peranan berkomunikasi dengan anggota pasien dengan melibatkan musyawarah seluruh anggota keluarga.
6. Ketelitihan dalam memeriksa penyakit dan diagnosa yang tepat mengenai penyakit sebelum pasien dibekam.
7. Sebelum melakukan Bekam diupayakan untuk pemeriksaan awal yaitu pengukuran tahap glukosa dalam darah dan kencing, tahap tekanan darah, serta denyut nadi pasien, juga hal ini dilakukan selepas bekam.
8. Obat-obatan yang talah dan sedang dikonsumsi oleh pasien kronik juga perlu dijelaskan supaya tidak timbul masalah sewaktu diBekam.
Seorang Muhtajib(Praktisi Bekam) harus selalu memperhatikan Standart Operasional Bekam(SOB) untuk menjaga kenyamanan pasien antara lain :
1. Satu jam sebelum bekam disunnahkan pasien untuk mandi terlebih dahulu, karena 3-5 jam setelah ber-bekam pasien dilarang mandi.
2. Di anjurkan untuk berwudlu dan sholat sunat bagi Muhtajib maupun pasien.
3. Lakukan wawancara mengenai riwayat kesehatan pasien.
4. Lakukan pemeriksaan / diagnosa tanda vital dan fisik pasien dan catat dalam lembar pemeriksaan
5. Jelaskan kepada pasen segala sesuatu tentang bekam dan pastikan pasien setuju/siap di bekam (mengisi lembar persetujuan tindakan/ infrom consen)
6. Siapkan dan periksa semua perlengkapan yang akan di gunakan untuk membekam.
7. Cuci tangan dengan sabun / disinfektan sebelum dan sesudah bekam.
8. Tentukan titik yang akan di bekam, bersihkan dan disinfeksi daerah tersebut.
9. Senantiasa berdzikir dan memohon pertolongan Allah.
10. Titik – titik pembekaman wajib di awasi oleh pembekam sejak awal hingga akhir selama proses pembekaman.
11. Perhatikan dan komunikasikan mengenai kondisi pasien selama pembekaman, seperti kenyamanan dan keadaan fisik
12. Berikan anjuran untuk terapi herbal dan kapan waktu berbekam lagi.
Dalam hal pengetahuan teknik Bekam, adqa beberapa metode yang harus kita ketahui, kita tidak terjebak pengetahuan yang sulit tentang alat yang harus digunakan untuk Bekam. Dalam hal ini kita harus mengetahui kelebihan dan kelemahan beberapa teknik Bekam, sehingga kita tidak serta merta mencaci atau mencemooh salah satu teknik bekam lain.di antara teknik yang harus kita ketahui yaitu :
3.1 Memakai Alat Pisau Bedah (Bisturi)
Gambar 3.1 Pisau Bedah
Dalam praktek Bekam ada proses dimana di keluarkannya darah kotor. Darah kotor atau lebih tepatnya darah yang mengandung sel-sel darah yang rusak, racun/toksin tidak di perlukan dalam tubuh. Bekam menggunakan alat sekadarnya tanpa memperhatikan standar dan keseterilannya tentu dapat mengakibatkan perspektif buruk dalam masyarakat mengenai Bekam tersebut. Sebaiknya dalam menggnakan sunnah Rasulullah SAW tidak bertentangan dengan standar medis yang modern digunakan dalam bedah minor adalah bisturi atau pisau bedah yang sering di sebut surgical blade.
3.1.1 Kelebihan memakai alat pisau bedah
Berikut ini adalah menggunakan pisau bedah, banyak kebaikan yang akan kita dapat baik untuk si pembekam dan pasien. Hal ini kita juga akan lebih cenderung mencontoh sunnah yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW dengan menggunakan torehan (syarthon).
3.1.1.1 Dilihat dari sudut Sterilisasi
1. Tidak mengandung zat pewarna tembaga
2. Tidak Mengandung zat anti karat
3. Tidak mengandung semua unsur dalam logam, seperti Ni, Al,Cr, Fe
4. Karena terbatas dari kandungan zat-zat tersebut, tidak akan menjadi carsinogen
5. Standar digunakan kalangan medis dan kedokteran untuk operasi atau bedah
6. Harganya jauh lebih murah
7. Steril dari pabrik
8. Terbungkus rapat
9. Terbungkus dari bahan alumunium foil/plastik
10. Tercatum masa kadaluarsa
11. Mengesankan praktik yang berbobot dan berkualitas, sesuai dengan standar pengobatan
12. Mengankat citra hijamah dan umat islam
13. Terlepas dari kepentingan pribadi yang bersifat subyekti, karena surgical blade standar alat bedah minor
3.1.1.2 Dilihat dari sudut dakwah
Dilihat dari segi dakwahnya menggunakan pisau bisturitentunya akan lebih pas karena banyak dikutip dalam hadist-hadist sesungguhnya berbekam itu menggunakan torehan atau syarthon. Jika kita kembalikan pada hadist Nabi yaitu :
“Dari Ibnu Abbas, dari Nabi beliau bersabda: ‘kesembuhan itu ada dalam 3 hal; dalam torehan hijamah, minuman madu atau sundutan dengan api. Namun aku melarang umatku melakukan sundutan.” (Shahih Al-Bukhari 5357; Muslim 2205)
3.1.1.3 Dilihat dari sudut pasiennya
Karena hijamah merupakan jenis pengobatan yang mengeluarkan darah dari tubuh pasien dan termasuk jenis tindakan bedah minor, maka unsur sterilisasi harus menjadi perhatian utama semua pihak. Sesuat disebut steril jika ia terbebas dari hama atau bakteri, disebut pula dengan istilah aseptis. Maka sterilisasi adalah tindakan untuk membuat suatu alat / bahan menjadi bebas hama. Semua instrumen hijamah, trmasuk pula tempat dan ruangan hijamah harus dilakukan tindakan sterilisasi secara rutin, jika tidak, maka akan menimbulkan septis, yaitu suatu keadaan masuknya bakteri kedalam aliran darah di dalam tubuh, baik tubuh pasien atau penghijamah atau siapapun yang bersinggungan dan berdekatan.
3.1.2 Kelemahan memakai alat pisau bedah
Dalam menggunakan pisau bisturi tentunya juga ada beberapa kelemahan. Hal ini tentunya kita tidak boleh taklid terhadap satu metode teknik Bekam saja. Adapun kelemahan-kelemahannya adalah sebagai berikut :
3.1.2.1 Dilihat dari sudut sterilisasi
1. Karena tidak sekali pakai
2. Perawatannya lebih sulit
3. Harganya lebih mahal
3.1.2.2 Dilihat dari sudut dakwah
Dalam kasus ini juga dapat disimpulkan bahwa hijamah dengan menggunakan silet ternyata belum tentu dapat dikatakan mingikuti anjuran sunnah, karena dalam kutipan hadist-hadist juga belum ditemukan yang tentang membahas hijamah menggunakan silet. Hal ini membuktikan bahwasannya kita tidak boleh terlalu taklid terhadap salah satu teknik bekam ini. Penghijamah pengguna silet sebagai alat penyayat harus bertanggung jawab, dunia akhirat, jika di kemudian hari pasiennya terkena kanker yang di sebabkanoleh carsinoma sentuhan antara silet yang tidak steril dengan pembuluh darah, sebagaimana yang di sabdakan Rasulullah dalam hadist yang shahih.
3.1.2.3 Dilihat dari Pasien
1. Adanya luka yang mungkin tidak bisa sembuh, karena mungkin bisa si pasien terkena penyakit diabetes
2. Bekas luka sayatan biasanya akan membekas dan sulit hilang
3. Bisa mengakibatkan pendarahan yang banyak terhadap pasien, bila si pembekam tidak ahli
Memakai Alat Jarum
Gambar 3.2 alat jarum bekam(lancet)
Belakang ini, khususnya di Indonesia dan Malaysia, marak terapan hijamah menggunakan jarum khusus steril yang disebut lancet untuk mengeluarkan darah. Keuntungannya pasien terhindar dari alghopobia, rasa takut yang membayangkan sakit yang akan di rasakan, sebelum rasa sakit itu sendiri di rasakan, sakit atau tidak. Keuntungan lain, harganya lebih murah. Di samping itu juga dapat dengan mudah dilakukan bagi seorang penterapis pemula.
Kelebihan memakai alat jarum
Dilihat dari sudut sterilisasi
Dengan jarum yang digunakan untuk berbekam adalah jarum yang di rancang khusus, dan telah di uji sterilisasinya. Serta juga dalam penempatan dan penggunaannya. Jadi secara otomatis jarum tersebut tidak akan berbahaya bagi kulit yang di bekam, karena sudah ada prosedur ukuran panjang pendeknya, terkantung kondisi kulit seseorang.
Dilihat dari sudut dakwah
Pada kenyataan masyarakat sekarang masi terlalu kurang yakin apabila berbekam menggunakan pisau bedah dan silet. Hal ini disebabkan banyak faktor yang mempengaruhi. Otomatis hal ini akan berdampak kurang menyebarnya at-Tibbun Nabawi di kalangan masyarakat. Dengan menggunakan jarum masyarakat akan lebih mudah menerima. Dan juga masyarakat tahu menggunakan lancet dan jarum lebih ramah dan tidak berbahaya.
Dilihat dari sudut pasien
1. Pasien akan merasa lebih nyaman
2. Tidak adanya luka yang terlalu lebar
3. Luka tusukan jarum akan mudah cepat menghilang dibanding yang lain.
4. Meminimalisir terjadinya pendarahan yang banyak.
Kelemahan memakai alat jarum
Dalam teknik menggunakan jarum juga ada beberapa kelemahannya, sehingga kita perlu mengetahuinya supaya kita tidak taklid dengan penggunaan teknik ini.
Dilihat dari sudut sterilisasi
Dalam menggunakan jarum perlu diperhatikan alatnya, karena setelah kita membekam orang, kalau kita tidak teliti maka akan ada sisa-sisa darah dalam lancet tersebut. Kalau tidak di bersihkan maka akan mengakibatkan terjadinya penyakit baru. Ini tidak langsung berdampak akan tetapi bisa 2 – 3 tahun kemudian.
Dilihat dari sudut dakwah
Belakang ini, khususnya di Indonesia dan Malaysia, marak terapan hijamah menggunakan jarum khusus steril yang disebut lancet untuk mengeluarkan darah. Sementara di Timur Tengah lancet tidak dikenal sama sekali. Pertanyaannya, efektif kah alat ini? Apakah pengguna lancet sesuai dengan As-Sunnah yang secara jelas di sebutkan bahwa pengeluaran darah adalah berupa torehan tipis dan bukan tusukkan menggunakan jarum. Karena dalilnya sudah jelas, sejelas sinar matahari bagi orang yang tidak buta, bahwa hijamah yang sesuai dengan As-Sunnah adalah yang menggunakan torehan dan bukan tusukkan jarum, maka semestinya penghijamah menggunakan model torehan. Sehingga kita berkewajiban untuk Menghidupkan sunnah Nabi SAW.
TEKNIK BEKAM
Barangsiapa yang ingin menjadikan terapi hijamah sebagai suatu bidang kerjanya (profesinya), yang dapat membantu proses penyembuhan berbagai penyakit dan juga sebagai proses amalan bagi pencegahan pelbagai penyakit khusus untuk masyarakat umum dan juga untuk anggota keluarga sendiri. Harus mengetahui perkara-perkara pokok/azas sebelum melakukan perawatan hijamah sebagai menunaikan tuntutan fardhu kifayah.
Adapun azas perawatan berhijamah adalah sebagai berikut antara lain:
1. Senantiasa belajar dan mengetahui tentang ilmu penyakit(panthology), termasuk tahap penyakit dari mulai akut (ringan), sub akut, kronik dan degeneratif.
2. Senantiasa mempelajari “produk knowledge”, fungsi obatan dari sumber alamiah dan obatan modern(kimiawi).
3. Harus mengetahui dan mahir mendiagnosa penyakit dari tanda-tanda(symptom) fizikal penyakit dan kaedah Naturopathy, Palpasi(denyut nadi), Iridologi, Analisis Syaraf Tangan, Kiropraktik, Pengobatan Tradisional.
4. Harus bijak menstabilkan dan mengawal emosi, mental, dan memahami kondisi jiwa pasien.
5. Mampu memainkan peranan berkomunikasi dengan anggota pasien dengan melibatkan musyawarah seluruh anggota keluarga.
6. Ketelitihan dalam memeriksa penyakit dan diagnosa yang tepat mengenai penyakit sebelum pasien dibekam.
7. Sebelum melakukan Bekam diupayakan untuk pemeriksaan awal yaitu pengukuran tahap glukosa dalam darah dan kencing, tahap tekanan darah, serta denyut nadi pasien, juga hal ini dilakukan selepas bekam.
8. Obat-obatan yang talah dan sedang dikonsumsi oleh pasien kronik juga perlu dijelaskan supaya tidak timbul masalah sewaktu diBekam.
Seorang Muhtajib(Praktisi Bekam) harus selalu memperhatikan Standart Operasional Bekam(SOB) untuk menjaga kenyamanan pasien antara lain :
1. Satu jam sebelum bekam disunnahkan pasien untuk mandi terlebih dahulu, karena 3-5 jam setelah ber-bekam pasien dilarang mandi.
2. Di anjurkan untuk berwudlu dan sholat sunat bagi Muhtajib maupun pasien.
3. Lakukan wawancara mengenai riwayat kesehatan pasien.
4. Lakukan pemeriksaan / diagnosa tanda vital dan fisik pasien dan catat dalam lembar pemeriksaan
5. Jelaskan kepada pasen segala sesuatu tentang bekam dan pastikan pasien setuju/siap di bekam (mengisi lembar persetujuan tindakan/ infrom consen)
6. Siapkan dan periksa semua perlengkapan yang akan di gunakan untuk membekam.
7. Cuci tangan dengan sabun / disinfektan sebelum dan sesudah bekam.
8. Tentukan titik yang akan di bekam, bersihkan dan disinfeksi daerah tersebut.
9. Senantiasa berdzikir dan memohon pertolongan Allah.
10. Titik – titik pembekaman wajib di awasi oleh pembekam sejak awal hingga akhir selama proses pembekaman.
11. Perhatikan dan komunikasikan mengenai kondisi pasien selama pembekaman, seperti kenyamanan dan keadaan fisik
12. Berikan anjuran untuk terapi herbal dan kapan waktu berbekam lagi.
Dalam hal pengetahuan teknik Bekam, adqa beberapa metode yang harus kita ketahui, kita tidak terjebak pengetahuan yang sulit tentang alat yang harus digunakan untuk Bekam. Dalam hal ini kita harus mengetahui kelebihan dan kelemahan beberapa teknik Bekam, sehingga kita tidak serta merta mencaci atau mencemooh salah satu teknik bekam lain.di antara teknik yang harus kita ketahui yaitu :
3.1 Memakai Alat Pisau Bedah (Bisturi)
Gambar 3.1 Pisau Bedah
Dalam praktek Bekam ada proses dimana di keluarkannya darah kotor. Darah kotor atau lebih tepatnya darah yang mengandung sel-sel darah yang rusak, racun/toksin tidak di perlukan dalam tubuh. Bekam menggunakan alat sekadarnya tanpa memperhatikan standar dan keseterilannya tentu dapat mengakibatkan perspektif buruk dalam masyarakat mengenai Bekam tersebut. Sebaiknya dalam menggnakan sunnah Rasulullah SAW tidak bertentangan dengan standar medis yang modern digunakan dalam bedah minor adalah bisturi atau pisau bedah yang sering di sebut surgical blade.
3.1.1 Kelebihan memakai alat pisau bedah
Berikut ini adalah menggunakan pisau bedah, banyak kebaikan yang akan kita dapat baik untuk si pembekam dan pasien. Hal ini kita juga akan lebih cenderung mencontoh sunnah yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW dengan menggunakan torehan (syarthon).
3.1.1.1 Dilihat dari sudut Sterilisasi
1. Tidak mengandung zat pewarna tembaga
2. Tidak Mengandung zat anti karat
3. Tidak mengandung semua unsur dalam logam, seperti Ni, Al,Cr, Fe
4. Karena terbatas dari kandungan zat-zat tersebut, tidak akan menjadi carsinogen
5. Standar digunakan kalangan medis dan kedokteran untuk operasi atau bedah
6. Harganya jauh lebih murah
7. Steril dari pabrik
8. Terbungkus rapat
9. Terbungkus dari bahan alumunium foil/plastik
10. Tercatum masa kadaluarsa
11. Mengesankan praktik yang berbobot dan berkualitas, sesuai dengan standar pengobatan
12. Mengankat citra hijamah dan umat islam
13. Terlepas dari kepentingan pribadi yang bersifat subyekti, karena surgical blade standar alat bedah minor
3.1.1.2 Dilihat dari sudut dakwah
Dilihat dari segi dakwahnya menggunakan pisau bisturitentunya akan lebih pas karena banyak dikutip dalam hadist-hadist sesungguhnya berbekam itu menggunakan torehan atau syarthon. Jika kita kembalikan pada hadist Nabi yaitu :
“Dari Ibnu Abbas, dari Nabi beliau bersabda: ‘kesembuhan itu ada dalam 3 hal; dalam torehan hijamah, minuman madu atau sundutan dengan api. Namun aku melarang umatku melakukan sundutan.” (Shahih Al-Bukhari 5357; Muslim 2205)
3.1.1.3 Dilihat dari sudut pasiennya
Karena hijamah merupakan jenis pengobatan yang mengeluarkan darah dari tubuh pasien dan termasuk jenis tindakan bedah minor, maka unsur sterilisasi harus menjadi perhatian utama semua pihak. Sesuat disebut steril jika ia terbebas dari hama atau bakteri, disebut pula dengan istilah aseptis. Maka sterilisasi adalah tindakan untuk membuat suatu alat / bahan menjadi bebas hama. Semua instrumen hijamah, trmasuk pula tempat dan ruangan hijamah harus dilakukan tindakan sterilisasi secara rutin, jika tidak, maka akan menimbulkan septis, yaitu suatu keadaan masuknya bakteri kedalam aliran darah di dalam tubuh, baik tubuh pasien atau penghijamah atau siapapun yang bersinggungan dan berdekatan.
3.1.2 Kelemahan memakai alat pisau bedah
Dalam menggunakan pisau bisturi tentunya juga ada beberapa kelemahan. Hal ini tentunya kita tidak boleh taklid terhadap satu metode teknik Bekam saja. Adapun kelemahan-kelemahannya adalah sebagai berikut :
3.1.2.1 Dilihat dari sudut sterilisasi
1. Karena tidak sekali pakai
2. Perawatannya lebih sulit
3. Harganya lebih mahal
3.1.2.2 Dilihat dari sudut dakwah
Dalam kasus ini juga dapat disimpulkan bahwa hijamah dengan menggunakan silet ternyata belum tentu dapat dikatakan mingikuti anjuran sunnah, karena dalam kutipan hadist-hadist juga belum ditemukan yang tentang membahas hijamah menggunakan silet. Hal ini membuktikan bahwasannya kita tidak boleh terlalu taklid terhadap salah satu teknik bekam ini. Penghijamah pengguna silet sebagai alat penyayat harus bertanggung jawab, dunia akhirat, jika di kemudian hari pasiennya terkena kanker yang di sebabkanoleh carsinoma sentuhan antara silet yang tidak steril dengan pembuluh darah, sebagaimana yang di sabdakan Rasulullah dalam hadist yang shahih.
3.1.2.3 Dilihat dari Pasien
1. Adanya luka yang mungkin tidak bisa sembuh, karena mungkin bisa si pasien terkena penyakit diabetes
2. Bekas luka sayatan biasanya akan membekas dan sulit hilang
3. Bisa mengakibatkan pendarahan yang banyak terhadap pasien, bila si pembekam tidak ahli
Memakai Alat Jarum
Gambar 3.2 alat jarum bekam(lancet)
Belakang ini, khususnya di Indonesia dan Malaysia, marak terapan hijamah menggunakan jarum khusus steril yang disebut lancet untuk mengeluarkan darah. Keuntungannya pasien terhindar dari alghopobia, rasa takut yang membayangkan sakit yang akan di rasakan, sebelum rasa sakit itu sendiri di rasakan, sakit atau tidak. Keuntungan lain, harganya lebih murah. Di samping itu juga dapat dengan mudah dilakukan bagi seorang penterapis pemula.
Kelebihan memakai alat jarum
Dilihat dari sudut sterilisasi
Dengan jarum yang digunakan untuk berbekam adalah jarum yang di rancang khusus, dan telah di uji sterilisasinya. Serta juga dalam penempatan dan penggunaannya. Jadi secara otomatis jarum tersebut tidak akan berbahaya bagi kulit yang di bekam, karena sudah ada prosedur ukuran panjang pendeknya, terkantung kondisi kulit seseorang.
Dilihat dari sudut dakwah
Pada kenyataan masyarakat sekarang masi terlalu kurang yakin apabila berbekam menggunakan pisau bedah dan silet. Hal ini disebabkan banyak faktor yang mempengaruhi. Otomatis hal ini akan berdampak kurang menyebarnya at-Tibbun Nabawi di kalangan masyarakat. Dengan menggunakan jarum masyarakat akan lebih mudah menerima. Dan juga masyarakat tahu menggunakan lancet dan jarum lebih ramah dan tidak berbahaya.
Dilihat dari sudut pasien
1. Pasien akan merasa lebih nyaman
2. Tidak adanya luka yang terlalu lebar
3. Luka tusukan jarum akan mudah cepat menghilang dibanding yang lain.
4. Meminimalisir terjadinya pendarahan yang banyak.
Kelemahan memakai alat jarum
Dalam teknik menggunakan jarum juga ada beberapa kelemahannya, sehingga kita perlu mengetahuinya supaya kita tidak taklid dengan penggunaan teknik ini.
Dilihat dari sudut sterilisasi
Dalam menggunakan jarum perlu diperhatikan alatnya, karena setelah kita membekam orang, kalau kita tidak teliti maka akan ada sisa-sisa darah dalam lancet tersebut. Kalau tidak di bersihkan maka akan mengakibatkan terjadinya penyakit baru. Ini tidak langsung berdampak akan tetapi bisa 2 – 3 tahun kemudian.
Dilihat dari sudut dakwah
Belakang ini, khususnya di Indonesia dan Malaysia, marak terapan hijamah menggunakan jarum khusus steril yang disebut lancet untuk mengeluarkan darah. Sementara di Timur Tengah lancet tidak dikenal sama sekali. Pertanyaannya, efektif kah alat ini? Apakah pengguna lancet sesuai dengan As-Sunnah yang secara jelas di sebutkan bahwa pengeluaran darah adalah berupa torehan tipis dan bukan tusukkan menggunakan jarum. Karena dalilnya sudah jelas, sejelas sinar matahari bagi orang yang tidak buta, bahwa hijamah yang sesuai dengan As-Sunnah adalah yang menggunakan torehan dan bukan tusukkan jarum, maka semestinya penghijamah menggunakan model torehan. Sehingga kita berkewajiban untuk Menghidupkan sunnah Nabi SAW.
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 KESIMPULAN
Setelah dilakukan serangkaian penelitian dan observasi terhadap pasien yang telah di bekam maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Bekam Merupakan Sunnah Nabi SAW
2. Bekam adalah suatu pengobatan yang keampuannya sudah terbukti dan biayanya murah
3. Bekam sekarang ini tidak lagi sudah menjadi kebutuhan pengobatan bagi saudara-saudara kita yang sakit
4. Bekam bukan lagi pengobatan alternatif, tetapi sudah menjadi pengobatan bagi kita yang mengalami sakit atau tidak sakit untuk menjaga kesehatannya.
5. Bekam bisa menyembuhkan semua penyakit atas kehendak Allah SWT
SARAN
Dari kesimpulan yang diambil diatas , dapat dikemukakan saran-saran yang berguna untuk perbaikan dari Penelitian yang kami lakukan dalam proyek tugas akhir ini:
1. Diharapkan untuk Menghidupkan sunnah Nabi, dengan mensosialisasikan kepada masyarakat tentang bekam.
2. Perlunya peningkatan keilmuan tentang medis yang bisa membantu proses Bekam.
3. Meningkatkan keterampilan Bekam.
